Forbes Rilis 30 Under 30 Asia 2026, Anak Muda di Balik AI, Robot hingga Startup Miliaran Rupiah

Forbes 30 Under 30 Asia 2026 menampilkan deretan anak muda yang menciptakan inovasi di bidang AI, sains, olahraga, hingga bisnis.

Forbes merilis daftar 30 Under 30 Asia 2026 yang menyoroti 300 anak muda paling berpengaruh di kawasan Asia-Pasifik, menampilkan inovator di bidang kecerdasan buatan (AI), robotika, sains, olahraga, hingga bisnis yang kini mulai membentuk masa depan kawasan. Laporan edisi Forbes Asia, yang dilansir pada edisi Juni 2026 (27/5/2026), menampilkan kombinasi pendiri startup, peneliti muda, dan kreator yang menarik modal besar serta menguji batas teknologi baru — dari robot humanoid hingga perangkat lunak otomatisasi proses kerja.

"Forbes 30 Under 30 Asia 2026 menampilkan deretan anak muda yang menciptakan inovasi di bidang AI, sains, olahraga, hingga bisnis dan mulai membentuk masa depan kawasan Asia."

Isi daftar dan beberapa nama yang menonjol

  • Guo Renjie (China) — Pendiri JoyIn Technology, perusahaan yang berdiri pada 2024 dan mengembangkan robot humanoid Zeroth M1 untuk anak-anak dan lansia. Zeroth M1 mampu mengenali ekspresi wajah, mengajak pengguna berbincang ketika terlihat kesepian, hingga membacakan buku untuk anak-anak. Hingga April 2026 JoyIn menerima hampir 20.000 pre-order untuk robot tersebut.
  • Finnlay Morcombe dan Oliver Farnill (Australia) — Pendiri Fluency, perangkat lunak berbasis AI yang dirancang untuk mengidentifikasi tugas-tugas berulang di perusahaan dan mengotomatiskannya, mengurangi beban pekerjaan administratif.
  • Yuki Noro (Jepang) — Pendiri Akari, yang menggunakan sistem AI berbasis cloud untuk membantu industri konstruksi mengelola proyek, menghitung struktur bangunan, hingga memproses tagihan.
  • Aniket Shah, Ujjwal Sukheja, dan Saran S. (India) — Pendiri Swish, aplikasi pengiriman makanan yang berjanji mengantar dalam 10 menit; Swish telah mengumpulkan pendanaan sebesar 54 juta dollar AS dengan valuasi sekitar 139 juta dollar AS.

Daftar Forbes tahun ini juga memberi bobot pada ilmuwan muda dan pencipta konten, mencerminkan beragam cara generasi muda Asia memanfaatkan teknologi. Kompas.com, yang melaporkan daftar tersebut pada 29 Mei 2026, menekankan adanya tren kuat integrasi AI dalam berbagai sektor ekonomi dan sosial.

Angka-angka pendanaan dan pre-order yang tinggi — seperti 54 juta dollar AS untuk Swish dan hampir 20.000 pre-order Zeroth M1 — menjadi indikator nyata bahwa produk dan layanan berbasis AI dan robotika tidak lagi sebatas prototipe; mereka masuk ke jalur komersialisasi yang menarik perhatian investor dan konsumen.

Ke depan, pengamat akan mengamati dua hal utama: sejauh mana produk seperti Zeroth M1 mampu memenuhi janji fungsi sosial (misalnya membantu lansia yang kesepian) dan bagaimana startup seperti Swish mempertahankan performa operasional dengan klaim pengiriman supercepat. Selain itu, perkembangan perusahaan seperti Fluency dan Akari menunjukkan fokus pragmatis pada efisiensi operasional dan otomatisasi di sektor korporasi dan infrastruktur—area yang kerap menjadi pintu masuk adopsi skala besar untuk teknologi AI.